Minggu, 08 Juni 2014

Filosof Muslim: Ibn Tufail



Ibn Tufail atau di Eropa dikenal dengan nama Abubacer lahir dengan nama asli Abu Bakr Muhammad ibn ‘Abd al-Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Tufail. Beliau lahir di Guadix, Granada, Spanyol pada dekade pertama abad ke 6 H/12 M. Tahun 549H/1154M, menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta dan Tangier, putra ‘Abd Al-Mu’min, penguasa Muwahhid Spanyol pertama yang merebut Maroko tahun 542H/1147M. Akhirnya dia menduduki jabatan dokter tinggi dan menjadi Qadhi di pengadilan serta wazir.
Pada masa khalifah Muwwahid Abu Ya’qub Yusuf (tahun 558H/1163M-580H/1184M), Ibn Tufail diberi kebebasan berfilsafat dan dikenalkan oleh sang kalifah kepada salah seorang filosof terkenal Ibn Rusyd. Ibn Tufail meninggalkan jabatannya sebagai dokter pemerintah tahun 578H/1182M, karena usia lanjut dan dia menganjurkan perlindungannya agar memilih ibn rusyd untuk menggantikan kedudukannya.
Karya-karya Ibn Tufail sangat sedikit yang dikenal orang. Miguel Casiri (112H/1710M-1205H/1790M) menyebutkan dua karya yang masih ada : Risalah Hayy ibn Yaqzan dan Asrar al-Hikmah al-Mashriqiyyah, yang disebut terakhir ini berbentuk naskah. Kata pengantar dari Asrar menyebutkjan bahwa risalah itu hanya merupakan satu bagian dari Risalah Hayy ibn Yaqzan, yang judul lengkapnya ialah Risalah Hayy ibn Yaqzan fi Asrar al-Hikamt al-Mashriqiyyah.
Kisah Hayy ibn Yagzan ini memang tidak asli dan berasal dari Alexandria; bahkan mungkin dari persia. Bagaimanapun, ibn Tufaillah yang mengubah sebuah kisah sederhana menjadi sebuah roman yang mengandung makna filosofis yang unik. Ketajaman filosofislah, bukannya ketajaman imajinasi, yang menandai kebaruan risalah. Secara filosofi, risalah itu merupakan suatu pemaparan yang hebat tentang teori ibn Tufail mengenai pengetahuan, yang bersifat upaya menyelaraskan Aristoteles dengan Neo-Platonis di satu pihak, dan al-Ghazali dengan ibn Bajjah adalah pengikut sejati Aristoteles. Ibn Tufail, mengikuti jalan tengah menjebatani jurang pemisah antara dua pihak itu.

DOKTRIN-DOKTRINNYA
1.      Dunia
Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yg tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan tentang rentang tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu tidak dapat mendahului mereka dalam hal waktu, dan yg tidak dapat ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun.
2.      Tuhan
Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta. Sang Pencipta mesti bersifat immaterial, karenanya, dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berujud benda. Karena dia immaterial maka kita tidak dapat mengenalinya lewat indera kita ataupun lewat imajinasi.
Mengenai pandangan bahwa dunia dan Tuhan sama-sama kekal, Ibnu Tufail mempertahankan pendapat mistisnya bahwa dunia itu bukanlah sesuatu yang lain dari Tuhan. Mengenai esensi Tuhan yang ditafsirkan sebagai cahaya, yg sifat esensialnya merupakan penerangan dan pengejawantahan, Ibn Tufai memandang dunia ini sebagai pengejawantahan dari esensi Tuhan sendiri dan bayangan cahayanya sendiri yang tidak berawal ataupun berakhir.
3.      Epistimologi
Pengalaman, inteleksi dan ekstase memainkan dengan bebas peranan merekasecara berurutan dalam memberikan visi yg jernih tentang kebenaran yg melekat pada jiwa. Bukan hanya disiplin jiwa tetapi juga pendidikan semua indera dan akal yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara pengalaman dan nalar (Kant) di satu pihak dan kesesuaian antara nalar dan intuisi, dipihak lain, membentuk epistemologi Ibn Tufail.
4.      Filsafat Agama
Filsafat merupakan suatu pemahaman akal secara murni atas kebenaran dalam konsep-konsep dan imajinasi dan sesungguhnya tak dapat di jangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Agama diperuntukan bagi semua orang; tapi filsafat hanya orang-orang yang berbakat.

Diantara  karya ibn Tufail, hanya Hayy ibn Yaqzan sajalah yang masih ada sekarang. Karya itu merupakan suatu roman filsafat pendek, tapi pengaruhnya terhadap generasi berikutnya di Barat sangat besar. Mengenai semangatnya karya itu menyamai Arabian Nights, mengenai metode, ia bersifat filosofis sekaligus mistis. Karya ibn Tufail tak kalh memikat bagi dunia modern, sebagai mana ia memikat dunia zaman pertengahan. Diantara murid-murid ibn Tufail, abu Ishaq al-Bitruji dan abu al-Walid ibn Rusyd adalah yang paling menonjol. Dalam bidang filsafat dan pengobatan dia menguasai arena lewat ibn Rusyd yang paham rasionalismenya “berkobar bagai api yang ganas di sekolah-sekolah Eropa” dan menuntun pemikiran mereka selama tidak kurang dari tiga abad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar