Minggu, 08 Juni 2014

Filosof Muslim: Al-Farabi



Abu Nasr al-Farabi lahir pada tahun 258 H/870 M dan meninggal pada tahun 339 H/950 M. Sebagai pembangun agung sistem filsafat, ia telah membuktikan diri untuk berpikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat, ia telah meninggalkan sejumlah risalah penting. Pada tahun 1370H/1950 M, seribu tahun setelah meninggalnya, beberapa sarjana Turki menemukan beberapa karyanya yang masih berupa naskah dan memecahkan beberapa kesulitan yang berkaitan dengan pemikirannya.
Al-Farabi tidak menuliskan riwayat hidupnya, dan tak seorang pun di antara para pengikutnya merekam kehidupannya. Biografi yang agak panjang termaktub dalam Walfayat al-A’yan-nya ibn Khalikan, tetapi banyak kelemahannya dan perlu diragukan keasliannya. Kehidupan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua periode, yang pertama bermula sejak lahir sampai ia berusia lima puluh tahun. Pada periode ini diketahui bahwa ia lahir di Wasij, sebuah dusun dekat Farab, di Transoziana tahun 258H/870 M. Terlahir sebagai orang Turki, ayahnya seorang jenderal, dan ia sendiri bekerja sebagai hakim untuk beberapa lama. Pendidikan dasarnya ialah keagamaan dan bahasa. Ibn Khalikan menyatakan al-Farabi menguasai 70 bahasa.  Semasa hidupnya ia memperoleh studi rasional, sepert matematika dan filsafat. Namun, nampaknya ia tidak puas dengan apa yang diperoleh di kota kelahirannya, lantas ia mengembara menuntut ilmu pengetauan.
Periode kedua yaitu pada usia tua hingga kematangan penuh. Baghdad sebagai pusat belajar terkemuka abad ke 4 H/ke-10 M adalah tempat pertama ia kunjungi. Ia tertarik untuk mempelajari logika, dan diantara ahli-ahli logika disana, Abu Bisyr Matta ibn Yunus-lah kepadanyalah al-Farabi belajar logika. Ia mengungguli gurunya hingga memperoleh sebutan “Guru Kedua”. Al-Farabi tertarik pada pusat kebudayaan lain di Aleppo, tempat orang-orang brilian dan para sarjana dan terdapat Istana Saif al-Daulah. Di Istana tersebut al-Farabi tinggal, dan merupakan orang pertama terkemuka sebagai sarjana dan pencari kebenaran.
KARYA-KARYANYA
Karya-karya al-Farabi dibagi menjadi dua, satu di antaranya mengenai logika dan yang lainnya bidang lain. Sedangkan karya-karya kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika, matematika, metafisika, etika dan politik. Perhatian utamanya ialah menegaskan dasar-dasar teori dan landasan doktrin, mempercerah kegelapan-kegelapan dan membicarakan masalah-masalah kontroversial untuk memperoleh kesimpulan yang benar. Karya-karyaal-Farabi tersebar luas di Timur pada abad ke-4 dan 5 H/ke-10 dan 11 M, dan mungkin mencapai Barat.
FILSAFATNYA
            Berikut corak dan unsur-unsur penting filsafatnya:
  1. Logika. Ia menyatakan bahwa “seni logika, umumnya, memberikan aturan-aturan, yang bila diikuti dapat memberikan pemikiran yang besar dan mengarahkan manusia secara langsung kepada kebenaran dan menjauhkan dari kesalahan-kesalahan”. Masalah pokok logika ialah topik-topiknya yang membahas aturan-aturan pemahaman. Topik-topik itu dikelompokkan menjadi delapan:
            -   Pengelompokkan                            -   Topik
            -   Penafsiran                                       -   Sofistik
            -   Pengupasan pertama                       -   Retorik
            -   Pengupasan kedua                          -   Puisi
2.   Kesatuan Filsafat. Al-Farabi berpendapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuan, karena itu, para filosof besar harus menyetujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran. Al-Farabi sangat yakin bahwa hanya ada satu aliran filsafat yaitu aliran kebenaran.
3.   Teori Kesepuluh Kecerdasan. Teori ini menempatkan bagian penting dalam dilsafat Muslim; ia menerangkan dua dunia; langit dan bumi; ia menafsirkan gejala gerakan dua perubahan.
4.   Teori Tentang Akal. Al-Farabi mengelompokkan akal menjadi akal praktis, yaitu yang menyimpulkan apa yang mesti dikerjakan dan teoritis, yaitu yang membantu menyempurnakan jiwa. Akal teoritis ini dibagi lagi menjadi: fisik (material), terbiasa (habitual) dan diperoleh ( acquired).
5.   Teori Tentang Kenabian. Dasar setiap agama langit adalah wahyu dan inspirasi. Seorang nabi adalah yang dianugerahi kesempatan untuk dapat langsung berhubungan dengan Tuhan dan diberi kemampuan untuk menyatakan kehendak-Nya. Islam, sebagaimana agama-agama langit lainnya, mempunyai Tuhan sebagai penguasanya. Adalah sangat perlu bagi Filosof Muslim memberikan peringatan kepada kenabian, merujukkan rasionalitasdengan tadisionalisme, dan mewarnai bahasa-bahasa bumi dengan firman Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar