Lahir
di Zaragoza, Spanyol, akhir abad ke 5 H/11 M dengan nama asli Abu Bakr Muhammad
ibn Yahya al-Sha’igh. Beliau juga dikenal sebagai Avampace. Para
ahli sejarah memandang Ibn Bajjah sebagai seorang yang berpengetahuan luas dan
mahir dalam beberapa ilmu. Bahkan Fath ibn Khaqan yang menuduh dan mengecam Ibn
Bajjah sebagai ahli bid’ah karena mengakui keamat pandaiannya. Juga karena
menguasai sastra, tata bahasa dan filsafat kuno, Ibn Bajjah telah disejajarkan
dengan al-Syaikh al-Rais Ibn Sina.
Karena ketenaran Ibn Bajjah, Abu
Bakar Sahrawi gubernur Saragossa mengangkat nya sebagai pejabat tinggi dalam
pemerintahannya. Pada tahun 512H/1118M, Ibn Bajjah meninggalkan kota Zaragoza
lalu tinggal di Seville dan menjadi tabib. Kemudian ia pergi ke Granada, lalu
pergi ke Afrika Barat-Laut.
KARYA-KARYANYA
- The Bodleian MS., Arabic Pococke No.206 tentang risalah-risalah mengenai ilmu pengobatan, dan Risalat al-Wada’.
- The Berlin MS. No.5060, hilang pada masa Perang Dunia II.
- The Escurial MS. No.612. Hanya berisi risalah yang ditulis oleh Ibn Bajjah sebagai penjelas atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika. Ditulis pada tahun 667H/1307M di Seville.
- The Khediviah MS. Akhlaq No. 290 buku itu ringkasan dari Tadbir al-Mutawahhid
- Brockelmann menyatakan bahwa The Berlin Library memiliki sebuah syair pujian karya ibn Bajjah berjudul Tardiyyah.
- Karya-karya yang disunting oleh Asin Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan : (i) Kitab al-Nabat, al-Andalus, jilid V, 1940; (ii) Risalah Ittisal al-Aql bi al-Insan, al-Andalus, jilid VII, 1942; (iii) Risalah al-Wada’, al-Andalus, jilid VIII, 1943; (iv) Tadbir al-Mutawahhid berjudul El Regimen Del Solitario, 1946
- Karya-karya yang disunting oleh Dr. M.Shaghir Hasan al-Ma’sumi: (i) Kitab al-Nafs dengan catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab, Majallah al-Majma’ al-‘Ilm al-‘Arabi, Damaskus, 1958; (ii) Risalah al-Ghayah al-Insaniyyah berjudul Ibn Bajjah on Human End, dengan terjemahan bahasa Inggris, Journal of Asiatic Society of Pakistan, jilid II, 1957.
FILSAFATNYA
Ibn Bajjah ahli dalam teori maupun
praktek ilmu-ilmu matematika, terutama astronomi dan music, mahir dalam ilmu
pengobatan dan tekun dalam studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam
dan metafisika. Beliau menyandarkan filsafat dan logikanya pada karya-karya
al-Farabi, tapi dia telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karya
itu. Tidak seperti al-Farbi, dia berurusan dengan segala masalah hanya
berdasarkan nalar semata. Dia mengagumi filsafat Aristoteles yang diatasnya
membangun sistem nya sendiri. Seperti Aristoteles, ibn Bajjah mendasarkan
metafisika dan psikologinya pada fisika.
Beberapa pendapat filosofis Ibn
Bajjah:
1.
Materi dan Bentuk
Dalam tulisan-tulisan ibn Bajjah,
kata bentuk dipakai untuk
mencakup berbagai arti: jiwa, sosok, kekuatan, makna, konsep.
Menurut pendapatnya, bentuk suatu
tubuh memiliki tiga tingkatan: bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual, bentuk
kejiwaan khusus dan bentuk fisik.
2.
Psikologi
Ibn Bajjah mendasarkan
psikologinya pada fisika. Dia memulai pembahasannya mengenai jiwa dengan definisi jiwa dan
menyatakan bahwa tubuh tersusun dari materi dan bentuk.
3.
Akal dan Pengetahuan
Menurut Ibnu Bajjah, akal
merupakan bagian terpenting manusia. Pengetahuan yang benar dapat diperoleh
lewat akal yang merupakan satu-satunya
sarana melalui nya kita mampu mencapai kemakmuran dan membangun kepribadian.
Tuhan memanifestasikan pengetahuan dan perbuatan kepada makhluk-makhluk-Nya
yang ada . setiap makhluk menerima ini semua dari-Nya sesuai dengan tingkat
kesempurnaan eksistensi masing-masing.
Pengetahuan yang paling tinggi
yaitu pengetahuan mengenai Tuhan sendiri dan malaikat-malaikat-Nya, lalu
pengetahuan mengenai kejadian-kejadian apa yang telah terjadi atau akan terjadi
di alam raya ini – pengetahuan yang diperoleh lewat wawasan hati mereka, tanpa
menggunakan mata mereka.
4.
Tuhan Sumber Pengetahuan
Mengenai rahmat Tuhan, yang lewat
rahmat tersebut unsur rasional mengenali perbedaan-perbedaan, seorang manusia
melebihi manusia lainnya, dan hal itu sesuai dengan kapasitas yang telah
dikaruniakan Tuhan kepadanya.
Untuk mencapai kedekatan
dengan Tuhan, ibn Bajjah menasehati kita untuk melakukan tiga hal:
• Membuat
lidah kita selalu mengingat Tuhan dan memuliakan-Nya
• Membuat
organ-organ tubuh kita bertindak sesuai dengan wawasan hati
• Menghindari
segala yang membuat kita lalai mengingat Tuhan atau membuat hati kita berpaling
dari-Nya.
5.
Tasawuf
Ibn Bajjah menjunjung
tinggi para wali Allah (auliya’Allah)
dan menempatkan mereka dibawah
para nabi. Menurutnya, sebagian orang dikuasai oleh keinginan jasmaniah
belaka – mereka berada ditingkat paling
bawah – dan sebagian lagi dikuasai oleh
spiritualis – kelompok ini sangat langka, dan termasuk dalam kelompok ini Uwais
al-Qarni dan Ibrahim ibn Adham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar