Jumat, 06 Juni 2014

Filosof Muslim: Al-Razi



Al-Razi lahir pada 1 Sya’ban 251 H/865 M di Rayy dan wafat pada 5 Sya’ban 313 H/27 Oktober 925 M. Di kota kelahirannya beliau dikenal sebagai dokter yang baik hati dan sangat menyayangi pasiennya. Al-Razi belajar ilmu kedokteran kepada ‘Ali ibn Rabban Al-Thabari dan belajar filsafat kepada Al-Bakhi.
Al-Razi di kenal memiliki lawan lawan mengenai teori-teori filsafat. Diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Abu al-Qasim al-Balkhi, ia berbeda dengan al-Razi mengenai waktu.
  2. Syuhaid ibn al-Husain al-Balkhi, ia berbeda dengan al-Razi mengenai teori kesenangan.
  3. Abu Hatim al-Razi adalah lawan paling penting karena banyak pendapat-pendapat al-Razi mengenai kenabian dan agama yang di tulis dalam buku A’lam al-Nubuwwah.
  4. Ibn Tammar, ia memilki perbedaan dengan al-Razi mengenai teori materi dan atmosfir bawah tanah.
  5. Ahmad ibn al-Thayyib al-Sarakhsi, beliau adalah senior al-Razi yang bertentangan mengenai rasa pahit.

KARYA-KARYA AL-RAZI
Buku-buku al-Razi sangat banyak . Dia bahkan mempersiapkan katalog untuk buku-buku yang di tulisnya. Yang di temukan: 118 buku, 19 surat, 4 buku, 6 surat, dan satu maqalah, jumlah seluruhnya 148 buah. Buku-buku tersebut di kelompokkan sebagai berikut: a) tentang ilmu kedokteran, b) ilmu fisika, c) logika, d) matematika dan astronomi, e) komentar, ringkasan, dan ikhtisar, f) filsafat dan ilmu pengetahuan hipotesa, g) metafisika, h) teologi, i) alkimia, j) atheisme, k) campuran.

FILSAFAT AL-RAZI
            Al-Razi adalah seorang rasional murni. Ia mempercayai hanya akal, di bidang kedokteran, studi klinis yang dilakukannya telah menghasilkan metode yang kuat tentang penemuan yang berpijak pada observasi dan eksperimen. Dalam menjelaskan tentang metafisika Al-Razi menolak semua ajaran nyang beranggapan bahwa alam adalah prinsip gerak dan penciptaan, dengan menunjukkkan kontradiksi-kontradiksi ajaran-ajaran itu.
            Al-Razi adalah seorang yang bertuhan tetapi ia tidak mempercayai wahyu dan kenabian. Al-Razi membantah kenabian dengan alasan sebagai berikut :
1. Akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, yang berguna dan tidak berguna.
2. Tiada pembenaran bagi pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing semua orang.
3. Para nabi saling bertentangan,
Dalam karyanya: al Tibbal-Ruhani dan al-Shirat al-Falsfiyyah Ia berpendapat bahwa seorang filosof harus moderat, tidak terlalu menyendiri, tidak terlalu memperturutkan hawa nafsu. Ada dua batas dalam hidup ini, batas tertinggi dan batas terendah. Batas tertinggi adalah batas yang tidak boleh dilampau oleh para filosof, yaitu berpantangan dari kesenangan yang dapat diperoleh hanya dengan melakukan ketakadilan dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akal. Sedang batas terendah ialah memakan sesuatu yang tidak membahayakan atau menyebabkan sakit dan memakai pakaian yang cukup untuk melindungi kulitnya, dan sebagaianya.
Dengan kata lain, Al-Razi tidak memiliki sistem filsafat yang teratur, tetapi melihat masa hidupnya, ia mesti dipandang sebagai pemikir yang tegar dan liberal di dalam islam, dan mungkin di sepanjang sejarah pemikiran manusia. Ia mempercayai manusia, kemajuan, Tuhan Maha Bijak, tetapi ia tidak mempercayai agama mana pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar