Jumat, 06 Juni 2014

Filosof Muslim: Al-Kindy



Al-kindi (185 H/801 M-260 H/873 M) adalah filosof muslim pertama. Sebagai muslim arab pertama yang mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat, Al-kindi disebut “Ahli-filsafat arab”. Nama lengkap Al-kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash’ats bin Qais Al-kindi. Kakeknya, al-Ash’ats ibn Qais, memeluk islam dan dianggap sebagai salah seorang sahabat nabi saw. Ayahnya, Ishaq al-Sabbah, menjadi gubernur Kufah selama kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan al-Rasyid. Kufah adalah pusat kebudayaan islam yang cenderung kepada studi-studi aqliah. Disinilah Al-Kindi menghapal al-Quran, mempelajari tata bahasa arab, kesusastraan dan ilmu hitung. Ia juga mempelajari Fiqh dan kalam.
Tetapi Al-kindi lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan dan filsafat, oleh karena itu ia menguasai bahasa yunani dan syria. Menurut Al-Qifti, sang penulis biografi “al-Kindi menerjemahkan banyak buku filsafat, menjelaskan hal-hal yang pelik, dan menyaripatikan teori-teori canggih filsafat”. Namun, kemahsyuran al-kindi tentang pengetahuannya sama dengan kemahsyurannya akan kekikirannya. Keburukan al-kindi ini digambarkan dalam karikatur al-jahiz dalam bukunya Kitab al-Bukhal.
KARYA AL – KINDI
 Karya al-kindi berjumlah270 buah yang kebanyakan berupa risalah-risalah pendek. Beberapa karya ilmiahnya telah diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona ke dalam bahasa Latin, dan pemikirannya itu sangat mempengaruhi pemikiran eropa pada abad pertengahan. Cardano menganggap al-kindi sebagai salah satu dari dua belas pemikir terbesar.
FILSAFAT MENURUT AL – KINDI
Menurut al-kindi, filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan islam. Filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran. Percaya bahwa kebenaran jauh berada di atas pengalaman, bahwa kebenaran itu abadi dialam dialami.
“filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filsosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran, dan dalam berpraktek, ialah menyesuaikan dengan kebenaran.
“teori dan praktek merupakan awal kebajikan. Masing-masing dibagi menjadi fisika, matematika dan teologi. Praktek dibagi menjadi bimbingan diri, keluarga dan masyarakat.
“ilmu-ilmu filsafat terdiri atas tiga hal, pertama, pengajaran (ta’lim), yaitu matematika yang bersifat mengantar; kedua, ilmu alam, yang bersifat terakhir dan ketiga ilmu agama yang bersifat paling tinggi.
KESELARASAN FILSAFAT DAN AGAMA
Al-kindi mengarahkan filsafat muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran, sedang agama berdasarkan wahyu. Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan antara 3 alasan:
            1.  ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
            2. wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian
            3. menuntut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
Filsafat merupakan pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyyah), ilmu tauhid, etika, dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Al-kindi membedakan secara tajam agama dan filsafat dalam risalah “jumlah karya aristoteles”:
1. kedudukan teologi lebih tinggi dari filsafat
            2. agama merupakan ilmu ilahiah, sedang filsafat merupakan ilmu insani
            3. jalur agama adalah keimanan sedang jalur filsafat adalah akal
            4. pengetahuan nabi diperoleh langsung melalui wahyu, sedangkan pengetahuan filosof diperoleh melalui logika dan pemaparan
Namun, al-kindi telah membuka pintu bagi penafsiran filosofis terhadap al-quran, sehingga menciptakan persesuaian antara agama dan filsafat dalam karangannya the wordship of primum mobile:
            1. sujud dalam shalat
            2. kepatuhan
            3. perubahan dari ketidaksempurnaan menjadi sempurna
            4. mengikuti aturan secara ikhlas
Kesimpulannya, al-kindi adalah filosof pertama dalam islam yang menyelaraskan antara filsafat dan agama, ia memberikan dua pandangan berbeda
            1. mengikuti jalur ahli logika dan memilsafatkan agama
            2. memandang agama sebagai ilmu ilahiah dan menempatkannya diatas filsafat
TUHAN, KETAKTERHINGGAN, RUH DAN AKAL
Suatu pengetahuan memadai dan meyakinkan tentang Tuhan merupakan tujuan akhir filsafat. Al-kindi menyifati tuhan dengan istilah-istilah baru: tuhan adalah yang benar, ia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif (ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah, tak berkualitas, tak berhbungan), ia juga tak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada (ia tak berjenis, tak berbagi dan tak berkejadian, ia abadi)
Benda-benda fisik terdiri atas materi dan bentuk dan bergerak didalam ruang dan waktu. Jadi materi, bentuk, ruang dan waktu merupakan unsur Dari Setiap fisik. Wujud, yang begitu erat kaitannya dengan fisik waktu dan ruang adalah terbatas, karena mereka takkan ada, kecuali dalam keterbatasan. Waktu bukanlah gerak , melainkan bilangan pengukur gerak, karena waktu tak lain adalah yang dahulu dan yang kemudian. Maka, setiap benda yang terdiri atas materi dan bentuk, yang terbatas ruang, dan bergerak didalam waktu, adalah terbatas, meski benda tersebut adalah wujud dunia. Dan karena terbatas maka tak kekal. Hanya Allahlah yang kekal.
Ruh adalah suatu wujud sederhana dan zatnya terpancar dari sang pencipta. Ruh bersifat spiritual, terpisah dan berbeda dari tubuh. Tiga bagian ruh ialah nalar, keberangan dan hasrat. Menurut al-kindi, akal yaitu:
            1. akal yang selalu bertindak
            2. akal yang secara potensial berada didalam ruh
            3. akal yang telah berubah didalam ruh dari daya menjadi aktual
            4. akal yang kita sebut akal yang kedua
Yang bersifat alam semesta adalah akal bila bersatu dengan ruh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar