Minggu, 08 Juni 2014

Filosof Muslim: Ibn Rusyd




            Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova, Spanyol pada 520H/1126 M dan wafat pada 595 H/1198 M. Beliau terlahir dari keluarga ahli ilmu fiqh yang ayah dan kekeknya adalah kepala pengadilan di Spanyol. Ia mempelajari Al-Qur’an beserta penafsirannya, Hadits Nabi, ilmu Fiqh, bahasa dan sastra Arab secara lisan dari seorang ahli (alim). Selain itu, ia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan.
            Ibn Rusyd dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan sebagai “juru ulas” karena menulis ulasan-ulasan tentang buku-buku karya Aristoteles. Ulasan besarnya yang masih ada hingga sekarang adalah Metaphysica, yang disunting oleh Bouyges (1938-1951 M). Selain itu ada pula ulasan kecil yang dinamakan Talkhis (Rangkuman) yang mengangkat filsafat Aristoteles dengan diselingi oleh filsafatnya sendiri.
            Secara keseluruhan, nilai ulasan-ulasan ibn Rusyd bersifat historis, kecuali ulasan-ulasan kecilnya yang mengungkapkan, sampai batas-batas tertentu, pemikirannya sendiri. Ibn Ruysd lebih dikenal dan dihargai oleh masyarakat di Eropa Tengah ketimbang di Timur, karena :
         Tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan kedalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan, lantas teks aslinya dalam bahasa Arab di bakar atau dilarang terbit karena mengandung anti filsafat dan filosof.
         Pada zaman Reinassance, Eropa lebih mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana yang dianut oleh Ibn Rusyd, sementara di Timur ilmu dan filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya kerakan-gerakan mistis dan keagamaan.

Filsafat dan Agama
Ibn Rusyd membuka risalahnya dengan mengajukan pertanyaan tentang apakah filsafat itu sah, dilarang, dianjurkan, atau diharuskan dalam hukum Islam (Syari’ah). Jawabannya, sejak dini filsafat diwajibkan atau dianjurkan dalam agama (terutama Islam) sebab fungsi filsafat hanyalah spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa kepada pengetahuan akan Sang Pencipta. Sasaran agama secara filosofis : agama berfungsi sebagai pencapaian teori yang benar dan perbuatan yang benar (al-‘ilm al-haq wal-‘amal al-haqq). Sejauh ini, agama sejalan dengan filsafat. Tujuan dan tindakan filsafat sama dengan tujuan dan tindakan agama. Hanya tinggal keselarasan keduanya dalam metode dan permasalahan materi.
Menurut Ibn Rusyd, agama didasarkan oleh 3 hal yang harus diyakini muslim : Eksistensi Tuhan, Kenabian, Kebangkitan. Tiga prinsip ini merupakan pokok masalah agama. Para filosof  tidak boleh mengemukakan penafsiran esoteris mereka kepada orang awam bila tidak dituduh sebagai ahli bid’ah. Jadi, filsafat merupakan saudara kembar agama, dan keduanya merupakan sahabat yang pada dasarnya saling mencintai.

Jalan Menuju Tuhan
            Dalam bukunya, al-Kasyf ‘an Manahij al-adilla, Ibn Rusyd menemukan jalan menuju Tuhan, yaitu metode-metode yang ada dalam Al-Qur’an untuk mencapai kepercayaan akan eksistensi Tuhan dan pengetahuan akan sifat-sifat-Nya. Buku ini ditulis dalam bentuk teologis. Sehingga, Ibn Rusyd meninjau berbagai metode dari mahzab Islam yang digolongkan menjadi 5 golongan besar, antara lain golongan Asy’ariah, Muta’zilah, Batiniyah, Hasyawiyah, dan Sufi.
            Ibn Rusyd menyebutkan, sebagai pembuktian tentang adanya Tuhan dan pembuktian tentang penciptaan ada 3, yakni : yang pertama bersifat teologis, kedua bersifat kosmologis, dan keduanya mulai dari alam raya sebagai suatu keseluruhan. Sementara, pembuktian adanya Tuhan bertumpu pada 2 prinsip :
1. Semua kemaujudan sesuai dengan kemaujudan manusia
2. Kesesuaian ini dikarenakan oleh perantara yang berkehendak berbuat begitu, sebab kesesuaian tak terjadi dengan sendirinya.
Tuhan disifati dengan 7 sifat utama : Tahu, Hidup, Berkuasa, Berkehendak, Mendengar, Melihat dan Berfirman. Tindakan-tindakan Tuhan bisa diringkaskan menjadi 5 tindakan utama, yakni : Mencipta, Mengutus nabi-nabi, Menetapkan takdir, Membangkitkan kembali dan Mengadili.
Jalan Menuju Pengetahuan
            Jalan menuju pengetahuan merupakan salah satu masalah besar yang dibahas oleh Filsafat Muslim, karena keterkaitannya dengan kemaujudan-kemaujudan yang lebih tinggi, yaitu “akal perantara” (agent intellect) yang dengan akal tersebut manusia berhubungan. Menurut Ibn Rusyd, akal dan ruh dibedakan dengan hati-hati dalam pemikirannya tentang proses pengetahuan. Menurut Ibn Rusyd, bentuk fisik tidak pernah dapat dipisahkan dari materi karena bentuk fisik bisa maujud hanya dalam materi. Menurut tindakannya, jiwa dibagi menjadi 5, yakni jiwa nutritif, sensitif, imajinatif, kognitif, dan apetitif.
Pengetahuan manusia tidak boleh dikacaukan oleh pengetahuan Tuhan, sebab manusia menyerap individu lewat indera dan menyerap hal-hal yang maujud lewat akalnya. Mustahil pengetahuan Tuhan sama dengan manusia, sebab pengetahuan manusia adalah akibat dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari adanya segala sesuatu itu.

Jalan Menuju Wujud
            Dua jenis metafisik yang berbeda diterima oleh bangsa Arab, yaitu metafisik tentang wujud dan metafisik tentang Yang Maha Esa. Yang pertama dari Aristoteles dan dan kedua dari plotinus. Metafisik adalah bagian dari ilmu-ilmu teoritis. Ibnu Rusyd mendefinisikan soal metafisik “Metafisik adalah ilmu yang mempelajari terhubungan hal-hal yang ada mengenai tatanan hierarkis sebab mereka sampai mencapai sebab utama. Karena itu, pengetahuan tentang wujud, berupa penyelidikan akan sebab dan prinsipnya. Kriteria wujud yaitu eksistensinya yang nyata, entah dalam bentuk potensi maupun tindakan.
            Empat syarat yang harus dimiliki benda yang akan bermaujud :
1. Subyek yang paling dekat
2. Sifatnya
3. Sebab pendorongnya
4. Ketiadaan sebab-sebab yang mencegahnya
Selalu ada sebab penggerak yang membuat suatu benda bermaujud dalam aktualitasnya. Benda-benda fisik itu terdiri atas materi dan bentuk, maka potensi selalu diakibatkan oleh adanya materi, sedang aktualitas selalu diakibatkan oleh adanya bentuk. Ibn Rusyd “pikirlah bagaimana takdir Tuhan itu mengatur dan menyatukan kedua jenis keberadaan itu. Diantara tindakan murni dan potensi murni, takdir menempatkan jenis potensi ini, yaitu potensi di udara, yang lewat potensi tersebut kemaujudan-kemaujudan kekal dan yang dapat rusak diihubungkan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar