Abu
al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova, Spanyol pada 520H/1126 M dan wafat pada 595 H/1198
M. Beliau terlahir dari keluarga ahli ilmu fiqh yang ayah dan kekeknya adalah
kepala pengadilan di Spanyol. Ia mempelajari
Al-Qur’an beserta penafsirannya, Hadits Nabi, ilmu Fiqh, bahasa dan sastra Arab
secara lisan dari seorang ahli (alim).
Selain itu, ia juga mempelajari matematika, fisika,
astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan.
Ibn
Rusyd dikenal oleh masyarakat Eropa abad pertengahan sebagai “juru ulas” karena
menulis ulasan-ulasan tentang buku-buku karya Aristoteles. Ulasan besarnya yang
masih ada hingga sekarang adalah Metaphysica, yang disunting oleh
Bouyges (1938-1951 M). Selain itu ada pula ulasan kecil yang dinamakan Talkhis
(Rangkuman) yang mengangkat filsafat Aristoteles dengan diselingi oleh
filsafatnya sendiri.
Secara
keseluruhan, nilai ulasan-ulasan ibn Rusyd bersifat historis, kecuali
ulasan-ulasan kecilnya yang mengungkapkan, sampai batas-batas tertentu,
pemikirannya sendiri. Ibn Ruysd lebih dikenal dan dihargai oleh masyarakat di
Eropa Tengah ketimbang di Timur, karena :
•
Tulisannya
yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan kedalam bahasa latin dan diedarkan
serta dilestarikan, lantas teks aslinya dalam bahasa Arab di bakar atau
dilarang terbit karena mengandung anti filsafat dan filosof.
•
Pada
zaman Reinassance, Eropa lebih mudah menerima filsafat dan metode ilmiah
sebagaimana yang dianut oleh Ibn Rusyd, sementara di Timur ilmu dan filsafat
mulai dikurbankan demi berkembangnya kerakan-gerakan mistis dan keagamaan.
Filsafat dan Agama
Ibn
Rusyd membuka risalahnya dengan mengajukan pertanyaan tentang apakah filsafat
itu sah, dilarang, dianjurkan, atau diharuskan dalam hukum Islam (Syari’ah).
Jawabannya, sejak dini filsafat diwajibkan atau dianjurkan dalam agama
(terutama Islam) sebab fungsi filsafat hanyalah spekulasi atas yang maujud dan
memikirkannya selama membawa kepada pengetahuan akan Sang Pencipta. Sasaran agama secara
filosofis : agama berfungsi sebagai pencapaian teori yang benar dan perbuatan
yang benar (al-‘ilm al-haq wal-‘amal al-haqq). Sejauh ini, agama sejalan dengan
filsafat. Tujuan dan tindakan filsafat sama dengan tujuan dan tindakan agama.
Hanya tinggal keselarasan keduanya dalam metode dan permasalahan materi.
Menurut
Ibn Rusyd, agama didasarkan oleh 3 hal yang harus diyakini muslim : Eksistensi
Tuhan, Kenabian, Kebangkitan. Tiga prinsip ini
merupakan pokok masalah agama. Para filosof
tidak boleh mengemukakan penafsiran esoteris mereka kepada orang awam
bila tidak dituduh sebagai ahli bid’ah. Jadi, filsafat merupakan saudara kembar
agama, dan keduanya merupakan sahabat yang pada dasarnya saling mencintai.
Jalan Menuju Tuhan
Dalam
bukunya, al-Kasyf ‘an Manahij al-adilla, Ibn Rusyd menemukan
jalan menuju Tuhan, yaitu metode-metode yang ada dalam Al-Qur’an untuk mencapai
kepercayaan akan eksistensi Tuhan dan pengetahuan akan sifat-sifat-Nya. Buku
ini ditulis dalam bentuk teologis. Sehingga, Ibn Rusyd meninjau berbagai metode
dari mahzab Islam yang digolongkan menjadi 5 golongan besar, antara lain
golongan Asy’ariah, Muta’zilah, Batiniyah, Hasyawiyah, dan Sufi.
Ibn
Rusyd menyebutkan, sebagai pembuktian tentang adanya Tuhan dan pembuktian
tentang penciptaan ada 3, yakni : yang pertama bersifat teologis, kedua
bersifat kosmologis, dan keduanya mulai dari alam raya sebagai suatu
keseluruhan. Sementara, pembuktian adanya Tuhan bertumpu pada 2 prinsip :
1.
Semua kemaujudan sesuai dengan kemaujudan manusia
2.
Kesesuaian ini dikarenakan oleh perantara yang berkehendak berbuat begitu,
sebab kesesuaian tak terjadi dengan sendirinya.
Tuhan
disifati dengan 7 sifat utama : Tahu,
Hidup, Berkuasa, Berkehendak, Mendengar, Melihat dan Berfirman. Tindakan-tindakan Tuhan
bisa diringkaskan menjadi 5 tindakan utama, yakni : Mencipta, Mengutus nabi-nabi, Menetapkan takdir, Membangkitkan kembali dan Mengadili.
Jalan Menuju Pengetahuan
Jalan
menuju pengetahuan merupakan salah satu masalah besar yang dibahas oleh
Filsafat Muslim, karena keterkaitannya dengan kemaujudan-kemaujudan yang lebih
tinggi, yaitu “akal perantara” (agent intellect) yang dengan akal
tersebut manusia berhubungan. Menurut Ibn Rusyd, akal dan ruh dibedakan dengan
hati-hati dalam pemikirannya tentang proses pengetahuan. Menurut Ibn Rusyd,
bentuk fisik tidak pernah dapat
dipisahkan dari materi karena bentuk fisik bisa maujud hanya dalam materi. Menurut tindakannya,
jiwa dibagi menjadi 5, yakni jiwa nutritif, sensitif, imajinatif, kognitif, dan
apetitif.
Pengetahuan
manusia tidak boleh dikacaukan oleh pengetahuan Tuhan, sebab manusia menyerap
individu lewat indera dan menyerap hal-hal yang maujud lewat akalnya. Mustahil
pengetahuan Tuhan sama dengan manusia, sebab pengetahuan manusia adalah akibat
dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari
adanya segala sesuatu itu.
Jalan Menuju Wujud
Dua
jenis metafisik yang berbeda diterima oleh bangsa Arab, yaitu metafisik tentang
wujud dan metafisik tentang Yang Maha Esa. Yang pertama dari Aristoteles dan
dan kedua dari plotinus. Metafisik adalah bagian dari ilmu-ilmu teoritis. Ibnu
Rusyd mendefinisikan soal metafisik “Metafisik adalah ilmu yang mempelajari
terhubungan hal-hal yang ada mengenai tatanan hierarkis sebab mereka sampai mencapai
sebab utama. Karena itu, pengetahuan tentang wujud, berupa penyelidikan akan
sebab dan prinsipnya. Kriteria wujud yaitu eksistensinya yang nyata, entah
dalam bentuk potensi maupun tindakan.
Empat
syarat yang harus dimiliki benda yang akan bermaujud :
1.
Subyek yang paling dekat
2.
Sifatnya
3.
Sebab pendorongnya
4.
Ketiadaan sebab-sebab yang mencegahnya
Selalu
ada sebab penggerak yang membuat suatu benda bermaujud dalam aktualitasnya.
Benda-benda fisik itu terdiri atas materi dan bentuk, maka potensi selalu
diakibatkan oleh adanya materi, sedang aktualitas selalu diakibatkan oleh
adanya bentuk. Ibn Rusyd “pikirlah bagaimana takdir Tuhan itu mengatur dan
menyatukan kedua jenis keberadaan itu. Diantara tindakan murni dan potensi
murni, takdir menempatkan jenis potensi ini, yaitu potensi di udara, yang lewat
potensi tersebut kemaujudan-kemaujudan kekal dan yang dapat rusak
diihubungkan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar